Analis Pagi — Jumat, 30 Oktober 2026
Kondisi pasar: hari yang berat kemarin. IHSG ditutup di 5.098,06 pada sesi 29 Oktober, turun 184,25 poin atau -3,49% dari penutupan sebelumnya 5.282,31. Analisis Ciptadana Sekuritas yang dikutip Bareksa (27 Okt) mencatat IHSG bergerak di bawah rata-rata 55 hari dengan support teknikal berikut di sekitar 5.000 dan 4.907 — artinya posisi pasar sekarang sudah sangat dekat dengan area penyangga pertama itu.
Di pasar seburuk ini, scanner deterministik teknikal.id tetap menyaring seluruh emiten aktif pagi ini: 3 kandidat valuasi, 8 persilangan EMA baru, dan 8 saham dengan akumulasi asing 7 hari. Tiga nama berikut lolos dengan alasan berlapis. Ini peta data untuk memulai riset — bukan ajakan membeli.
1. MBSS — Mitrabahtera Segara Sejati (Rp3.920)
Angka kunci: Skor Sinyal 0,66 — satu-satinya label Strong Bullish di scan pagi ini. PE 18,5x, PBV 1,76x, kapitalisasi Rp6,86 triliun. Volume kemarin naik +43,6% di atas rata-rata, sementara harga hanya turun tipis 0,76%.
Kenapa menonjol: Data menunjukkan volume menguat justru saat pasar jatuh — minat beli nyata, bukan lonjakan kosong. Katalisnya konkret dua lapis: kontrak pengangkutan material dengan PT Global Energi Lestari (GEL Group) ditandatangani 26 Oktober, target 500.000 metrik ton per bulan selama 5 tahun, yang menurut manajemen setara potensi pendapatan rata-rata Rp1,2 triliun per tahun (Kompas, 27 Okt). Ditambah buyback hingga Rp200 miliar dari kas internal yang berjalan 22 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Risiko: PE 18,5x premium dibanding mayoritas emiten pelayaran; kontrak GEL berbentuk perjanjian payung — volume baru terealisasi per pengiriman (SPAL); aliran dana asing 7 hari masih netral. Kalau koreksi pasar berlanjut, tidak ada saham yang kebal.
2. AADI — Adaro Andalan Indonesia (Rp11.125)
Angka kunci: PE 6,3x, PBV 1,56x, dividen yield 8,56%, kapitalisasi Rp86,63 triliun. Sinyal persilangan EMA bullish baru terbentuk 27 Oktober. Harga kemarin -4,51%.
Kenapa menonjol: Kombinasi valuasi murah + dividen tinggi + sinyal teknikal segar jarang hadir sekaligus. Katalis terbesarnya: buyback Rp5 triliun mulai dieksekusi bertahap sejak 20 Oktober — manajemen menyebutnya wujud keyakinan pada fundamental sekaligus dukungan stabilisasi pasar modal. Kontan (28 Okt) menilai kinerja semester II-2026 berpeluang menguat ditopang pasar batubara global yang masih mendukung, plus potensi keuntungan dari divestasi tambang Kestrel di Australia.
Risiko: Penurunan -4,51% kemarin menunjukkan buyback belum menahan laju jual di pasar panik; yield 8,56% adalah angka historis — dividen tahun depan keputusan RUPS; harga batubara bergerak di luar kendali emiten.
3. PWON — Pakuwon Jati (Rp286)
Angka kunci: Akumulasi asing bersih sekitar 105 juta lembar dalam 5 sesi terakhir — setara kira-kira Rp30 miliar pada harga terakhir — salah satu net buy terbesar di scan 7 hari. PE 6,2x.
Kenapa menonjol: Di tengah tekanan jual asing ke bursa, data aliran dana justru mencatat PWON dikumpulkan konsisten lintas sesi. Fundamental ditopang pendapatan berulang (mall, hotel, sewa) yang menurut Kontan (27 Okt) menjadi tulang punggung ketika marketing sales 9M-2026 melemah 10% YoY ke Rp811 miliar.
Risiko: Marketing sales turun dua digit; ledakan gas di kawasan San Antonio, Pakuwon City (6 Okt, 58 bangunan rusak) berpotensi menambah biaya dan mengganggu area komersial; sektor properti sensitif terhadap suku bunga dan daya beli.
Penutup
IHSG -3,49% kemarin adalah pengingat bahwa tren menengah masih tertekan. Tiga nama di atas menonjol pada datanya — skor sinyal, valuasi, aliran dana, dan katalis — tetapi data adalah titik mulai riset, bukan jaminan arah harga. Support 5.000–4.907 adalah level yang perlu diwaspadai bila tekanan berlanjut hari ini.
Disclaimer: Bukan rekomendasi beli/jual — edukasi analisis berbasis data teknikal.id. Seluruh angka pada artikel ini diambil dari basis data teknikal.id per sesi 29 Oktober 2026; berita katalis dikutip dari media yang disebutkan. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab Anda.